Tuhan Sebagai Jangkar Kehidupan Kita

0
64

Pada suatu ketika, ada sebuah dermaga yang berisikan banyak kapal mahal. Setiap hari, para orang kaya pemilik kapal-kapal ini saling menyombongkan fitur-fitur bagus dari kapal mereka. Mereka menyombongkan sound system kapal mereka, kecepatan mesin kapal mereka, dan banyaknya perabotan di dalam kapal mereka. Namun, di dermaga yang penuh dengan orang-orang kaya yang sombong itu, ada seorang pemuda rendah hati yang memiliki sebuah kapal kecil. Kapal ini tidak semewah kapal-kapal lainnya dan tidak memiliki fitur-fitur bagus di dalam kapalnya seperti kapal-kapal yang lain. Namun, pemuda ini memiliki sebuah jangkar yang sangat bagus dan sangat kuat—sebuah jangkar yang melebihi jangkar-jangkar kapal yang lain.
Pada suatu hari, sebuah badai besar melanda dermaga tersebut. Tidak ada yang mengerti mengapa badai itu dapat terjadi, tetapi badai itu sangatlah kencang sehingga orang-orang hanya dapat mengurung diri di rumah dan berharap badai tersebut cepat berakhir. Keesokan paginya, badai tersebut berakhir. Semua pemilik kapal datang ke dermaga untuk mengecek kapal mereka—dan mereka menemukan kapal mereka telah hilang karena terbawa angin dan ombak yang luar biasa dari badai semalam. Namun, ada satu buah kapal yang bertahan, yaitu kapal si pemudah yang rendah hati.
Orang-orang bingung, mengapa kapal pemuda ini dapat bertahan melalui badai besar semalam, padahal kapalnya adalah kapal yang paling kecil dan paling tidak memiliki fitur apa-apa. Si pemuda pun menjelaskan bahwa yang membedakan kekuatan bertahan kapal miliknya dari kapal-kapal lain tidaklah ditemukan pada kapal itu sendiri, melainkan pada jangkar yang menahan kapal itu. Alasan kapal miliknya bertahan sedangkan kapal-kapal lain tidak, adalah karena kapalnya memiliki jangkar yang jauh lebih kuat dibandingkan jangkar kapal-kapal yang lain.
Ibrani 6:19-20 mengatakan: “Pengharapan itu adalah jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”
Teman-teman, dimanakah kita meletakkan pengharapan kita hari ini? Apakah kita meletakkannya pada banyaknya uang yang kita miliki? Apakah kita meletakkannya pada relationship dengan manusia yang kita miliki? Apakah kita meletakkannya pada ijazah yang kita miliki? Ataukah kita meletakkannya pada Tuhan yang kita miliki? Setiap dari kita pasti akan mengalami badai di dalam hidup kita, dan jika kita menjadikan hal-hal dunia ini sebagai jangkar dari kehidupan kita, saya yakin hidup kita tidak akan dapat bertahan. Tetapi jika kita mau menjadikan Tuhan sebagai jangkar dari kehidupan kita, saya yakin hidup kita pasti dapat bertahan melewati badai apa pun.
“Tuhan tidak berjanji bahwa kita akan hidup bebas dari badai, tetapi Dia berjanji bahwa Dia akan menyertai dan mengkokohkan kita dalam melewati setiap badai di dalam hidup kita.”
“Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.” (Mazmur 33:20-22)
________________________________________
Tuhan Yesus Memberkati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.