MENGHADAPI PANDEMI VIRUS CORONA

0
505

Tahun 2020 belum lama berjalan, namun dunia dikejutkan dengan kemunculan virus mematikan yaitu virus corona atau covid-19. Virus corona pertama kali merebak di kota Wuhan, Tiongkok dan menyebar dengan masif hingga ke berbagai negara. Hingga tanggal 6 Maret, tercatat angka kematian akibat virus ini mencapai 3.348 orang di 84 negara yang di konfirmasi terjangkit virus corona. Keadaan ini sungguh memprihatinkan dan mencemaskan. Wabah Corona telah menjadi ancaman serius yang perlu segera diantisipasi dan diatasi bagi banyak negara saat ini.

Di tengah situasi kelam, mungkin kita terdorong untuk bertanya, “Di manakah Allah?” Kita seakan berteriak seperti Daud dalam Mazmur 38, ketika ia merasa sangat menderita karena penyakit yang ia alami, “Aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.” Apakah Allah diam saja dalam pandemi Corona ini? Bahkan mungkin ada orang yang mulai bertanya, “Adakah ini suatu hukuman dari Tuhan?”

Pertanyaan ini wajar dan sangat mungkin bisa dipertanyakan oleh orang-orang yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati. Saat mereka merasa terjebak dalam rumah sendiri dan mulai kekurangan makanan dan minuman sedangkan untuk ke luar rumah saja mereka tidak berani. Namun sebenarnya ini bukanlah kelalaian Allah, melainkan sebuah keniscayaan yang bisa terjadi dalam kehidupan yang fana ini. Situasi ini mendorong kita sebagai manusia untuk mengakui bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Tuhan dalam segala hal.

Firman Tuhan menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya (Ibrani 13:5b). Ia mengendalikan segala sesuatu dalam segala hal—masa lalu, masa kini, dan masa mendatang—dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kuasa Allah. Segala sesuatu yang terjadi, semua ada dalam kedaulatan-Nya atau karena Ia mengizinkan hal tersebut. Namun, “mengizinkan sesuatu terjadi” dan “menyebabkan sesuatu terjadi” adalah dua hal yang berbeda.

Kendati virus Corona berskala global, namun ini tidak berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita mungkin bukan ilmuwan yang mampu mengembangkan vaksin atau anti virus, pun kita tidak punya cukup sumber daya untuk menolong mereka yang terdampak secara langsung, tapi kita memiliki akses untuk datang kepada Allah dan menaikkan doa-doa kita kepada-Nya. Firman-Nya mengatakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).

Doakanlah agar para korban yang terdampak secara langsung memperoleh anugerah Allah dan kesembuhan; mereka yang dikarantina dapat tetap tenang dan mendapatkan suplai bahan makanan; paramedis dapat mengobati korban dengan efektif dan tubuh mereka dapat kebal dari paparan virus; para peneliti agar mampu menciptakan vaksin yang berguna bagi pengobatan dan pencegahan di masa depan; para pemangku kebijakan agar mereka segera membuat peraturan yang menjamin keamanan setiap warga dari ancaman virus.

Seraya berdoa, kita juga bisa menahan diri untuk tidak menyebarluaskan informasi-informasi terkait virus Corona yang belum bisa diklarifikasi kebenarannya. Meski mungkin maksud kita baik—untuk menginformasikan orang terkasih—namun bisa saja yang terjadi malah kepanikan. Inilah salah satu tindakan sederhana kita yang dapat kita lakukan untuk menolong membuat keadaan lebih baik. Dan, janganlah lupa pula untuk menerapkan pola hidup sehat, sebagaimana dikatakan oleh Menteri Kesehatan RI. Tubuh dan pola hidup yang sehat dapat menolong kita meminimalisir potensi terinfeksi virus Corona.

Dalam keadaan yang terjadi sekarang ini, mungkin kita sejenak berpikir bahwa iman adalah semacam formula ajaib. Artinya, jika seseorang memiliki iman dalam kadar yang secukupnya, ia akan kaya raya, selalu sehat, menjalani hidup yang bahagia, dan setiap doa yang dipanjatkannya langsung menerima jawaban. Namun sayangnya, kehidupan tidak berjalan seperti formula yang tersusun rapi itu. Sebagai bukti, penulis kitab Ibrani menyajikan pengingat yang sangat kuat tentang makna “iman sejati” dengan mengulas kehidupan beberapa pahlawan iman dari Perjanjian Lama (Ibr. 11).

“Tanpa iman,” kata sang penulis dengan terang-terangan, “tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (11:6). Dalam menggambarkan tentang iman, ia menggunakan kata “bertahan” (ay.27). Sebagai hasil dari iman mereka, sejumlah pahlawan memperoleh kemenangan: mereka berhasil memukul mundur pasukan musuh, luput dari mata pedang, selamat dari terkaman singa. Namun, yang lainnya menjumpai akhir yang kurang menyenangkan: mereka didera, dilempari batu, mati digergaji. Pasal ini ditutup dengan pernyataan, “Mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik” (ay.39).

Gambaran iman tersebut tidak bisa disederhanakan menjadi semacam formula. Terkadang iman memimpin pada kemenangan dan keberhasilan. Terkadang iman membutuhkan kebulatan tekad yang teguh untuk bertahan dengan risiko apa pun. Bagi orang-orang yang demikian, “Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka” (ay.16).

Iman kita didasarkan pada keyakinan bahwa Allah memegang kendali mutlak dan Dia akan selalu menggenapi janji-Nya, baik di kehidupan sekarang maupun di kehidupan mendatang.

Sebelum Yesus di tangkap dan disalibkan, Yesus dan murid-muridnya pergi ke taman Getsemane, kemudian Yesus berhenti di sebuah tempat yang nyaman di antara pohon-pohon zaitun, lalu dia berkata kepada murid-muridnya, ”Duduklah di sini sementara aku pergi ke sana dan berdoa.” Dan taman di kaki bukit tempat sekelompok murid Yesus jatuh tertidur. Yesus menegur mereka dan berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk. 14:38).

Betapa mudahnya kita tertidur atau bersikap ceroboh dalam perjalanan iman kita. Pencobaan menyerang ketika kita sedang rentan. Ketika kita mengabaikan area-area tertentu dalam kehidupan rohani kita—misalnya berdoa dan mempelajari Alkitab—kewaspadaan kita pun melemah dan menjadi longgar, sehingga diri kita menjadi sasaran yang mudah diserang Iblis (1Ptr. 5:8).

Kita perlu sadar terhadap segala wabah penyakit yang terjadi saat ini dan kita perlu berdoa untuk menjaga kewaspadaan. Jika kita tetap berjaga-jaga dan berdoa—demi diri sendiri dan orang lain—Roh Kudus akan memampukan kita untuk menang atas pencobaan dan meluputkan kita dari segala jerat wabah penyakit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.