IKATAN DAMAI SEJAHTERA

0
36

Efesus 4:3 

“Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”

Kerukunan adalah anugerah yang Tuhan berikan. Tuhan menginginkan kita hidup rukun dan dalam unity. Keadaan bangsa yang terpapar dengan radikalisme dan intoleransi di berbagai lapisan masyarakat, institusi dan bahkan pemerintahan cukup memprihatinkan. Kerangka kerukunan umat beragama berdasarkan pemikiran agama-agama mengalami jalan buntu karena tidak dapat diterima oleh semua kelompok. Bagaimana kita hidup rukun dan bersatu di Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, ribuan suku dan ratusan bahasa dengan beragam kebudayaan yang berbeda?

Kita bersyukur dengan semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu “berbeda-beda tetapi tetap satu” dan ideologi negara “Pancasila” yang merupakan kunci bagi kita untuk menjaga kerukunan dan kesatuan. Semangat gotong-royong dengan musyawarah dan mufakat dalam sila ke-4 dan ke-5 dari Pancasila dapat menolong kita dalam hidup kebersamaan. Setiap suku dan perwakilan harus didengar dan karakteristik bangsa Indonesia adalah gotong-royong.

Roma 15:5-7 berkata,  “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan  Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” Jadi, kerukunan adalah satu anugerah yang dikaruniakan oleh Tuhan dan juga merupakan kehendak Tuhan Yesus Kristus. Sesungguhnya, salah satu doa Tuhan Yesus yang belum dijawab adalh unity, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engakau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”       (Yohanes 17:21)

Untuk mengusahakan kerukunan, ada harga yang harus dibayar. Kita harus mengesampingkan harga diri ataupun kepentingan diri sendiri dan lebih menjunjung kerukunan dan kesatuan. Kita juga harus saling mengampuni dan menerima satu sama lain. Jika tidak mengampuni, maka dosa kita pun tidak aka diampuni oleh Bapa di surga (Markus 11:26). Harga diri dan tuntutan hak harus dilepaskan dan saling menerima kekurangan satu sama lain. Jika gengsi dan hak masing-masing dipertahankan, maka kerukunan tidak akan pernah terjadi. Yakobus 3:16 berkata,  “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Namun, jika kita menjaga kerukunan, maka berkat dan kehidupan akan mengejar kita (Mazmur 133).

Kesatuan roh harus diusahakan dan dapat diperoleh melalui ikatan damai sejahtera (Efesus4:3). Damai sejahtera adalah pengikat yang mempersatukan. Bagaiman kita memperoleh damai sejahtera? Roma 16:20 berkata bahwa allah adalah sumber damai sejahtera. Iblis yang menjadi sumber sumber segala kekacauan, perselisihan dan perpecahan akan segera dihancurkan oleh Allah yang akan memberikan damai sejahtera. Tuhan Yesus telah memberikan damai sejahtera kepada kita, bukan seperti yang diberikan oleh dunia. Yohanes 14:27, “Damai sejahtera telah Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Kkuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Kata “damai” atau “peace” dalam bahasa Yunani ειρήνη  eiríni dan dalam bahasa Ibrani shalom berarti “prosperity” atau “kelimpahan, kemakmuran”. Tuhan Yesus telah meninggalkan kelimpahan kepada kita. Bahkan Ia rela miskin supaya kita diberkati. 2Korintus 8:9,    “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”  Apakah kita memiliki pikiran yang sama seprti yang dimiliki Tuhan Yesus? Kita yang kaya, apakah rela menjadi miskin utntuk memperkaya orang lain?

Gaya hidup jemaat mula-mula memiliki ciri khas, yaitu unity yang sangat kuat. Mereka saling berbagi sesuai dengan keperluan masing-masing. Orang-orang percaya pada saat itu sehati sejiwa dan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama serta tidak ada kekurangan. Mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah dan melayani dalam kuasa yang besar (Kisah Para Rasul 4:32-33). Untuk membangun dan mempertahankan unity serta kerukunan, kita harus belajar hidup berbagi. Tuhan Yesus sendiri telah mengatakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Kelimpahan bukan hanya berbicara tentang harta dan uang, tapi berbicara juga tentang talenta, panggilan dan keahlian. Kalau kita dipercayakan melayani di geraja besar, kita dipercaya sebagai penilik (overseer) dan bukan pemilik, sebgai pelayan dan bukan pemimpin. Karena kita adalah tuan rumah, kita tidak perlu dilayani dan menjadi pembicara utama. Pada saat kita memberi dan berbagi dengan para pelayan lainnya, maka damai itu muncul kita dipersatukan dalam ikatan kasih. Pada waktu damai hadir, damai (“eirene”) akan mengikat sehingga unity itu menjadi kuat.

Standar dalam mengasihi orang lain harus sama dengan mengasihi diri sendiri. 1Yohanes 4:7 berkata,   “Saudara-saudarku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasla dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”  Kekristenan berbicara tentang pengampunan dan kasih.

Yuval Noah Harari, seorang sejarawan Israel, yang menjabat sebagai profesor di Departemen Sejarah Universitas Ibrani di Yerusalem meneliti tentang agama-agama di dunia dan menulis tentang rekonstruksi  sejarah kehidupan manusia dari abad-abad sebelumnya. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan. Kalau yang kita lakukan sekarang salah, maka masa depan juga akan buruk. Dunia pada zaman dahulu kala percaya pada allah yang banyak (polyteisme). Namun kepercayaan ini hanya berlaku di daerah tertentu dan tidak menyebar, tidak berusaha meyakinkan ataupun memaksakan agama mereka kepada orang lain. Manusia pada saat itu hidup rukun dan damai. Polyteisme berubah menjadi monoteisme, yang hanya percaya kepada satu Allah saja. Kemudian polarisasi terjadi antara polyteisme dan monoteisme. Sewaktu polarisasi terjadi, agama menimbulkan banyak koraban. Perbedaan doktrin pada kekristenan di abad ke-5 dan ke-6 menyebabkan ratusan ribu orang meniggal. Galileo ditangkap karena menentang pendapat Paus. Sinkretisme terjadi saat polarisme terjadi, yaitu pengaruh agama asing yang menyusup pada kekristenan karena disesuaikan dengan kebudayaan satu tempat. Kasih dan pengampuanan berubah menjadi prinsip kalah dan menang. Gereja menjadi jahat karena kehilangan kasih dan pengampunan. Janganlah sampai sejarah berdarah terulang. Gereja adalah mempelai perempuan Tuhan Yesus. Biarlah damai sejahtera mengalir dalam kita.

Markus 14: 1-9 bercerita tentang seorang perempuan yang mengurapi kepala Yesus dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya, dua hari sebelum hari raya Paskah di rumah Simon si kusta. Nama wanita ini tidak disebut, tapi ketika wanita ini dikritik karena dianggap melakukan pemborosan minyak narwastu, Tuhan Yesus membelanya da berkata di ayat 9,  “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga unutk mengingat dia.”   Yohanes 12:1-7   juga bercerita tentang Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, enam hari sebelum Paskah di rumah Lazarus, Marta dan Maria di Betania.

Pesan yang disampaikan Tuhan sama, bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk memepersiapkan dan mengingat hari penguburan-Nya.

Kedua wanita ini tidak mencari pengurapan, tetapi membawa minyak urapan. Pada setiap perayaan Paskah dimana hari kematian Tuhan diingat, dan dimana Injil diberitakan, kedua wanita ini akan selalu dikenang. Apa yang menyentuh hati Tuhan? Sewaktu kedua wanita ini mengurapi Yesus dengan minyak narwastu, sesungguhnya  yang mahal adalah kasih mereka. Sewaktu mengasihi Tuhan, Dia akan mengasihi kita kembali. Arti dari kata “Maria” adalah “rebellion” atau pemberontakan”. Maria berontak karena tinggal di Betany, yang berarti “house of mysery”  atau “rumah penderitaan/kesusahan”. Penderitaan tidak membuat Maria menjadi pengemis, tapi dia memutuskan untuk mengeluarkan dan memberi yang terbaik. Oleh karena itu, Tuhan mengurapi Maria dengan cinta-Nya. Maria mengurapi kaki Tuhan karena merasa sudah diampuni dan dicintai. Dia menumpahkan minyak narwastu dan kasihnya. Tuhan mengembalikan kasihnya dan berkata bahwa dimana saja Injil diberitakan, disitu kisah itu akan diceritakan.

Paskah berbicara tentang pengobanan Tuhan Yesus di kayu salib. Dosa dihapus dan bukan ditutupi. Paskah itu penting. Status orang-orang Israel yang adalah budak diubah menjadi orang bebas membawa kekayaan Mesir. Galatia 3:14 menyampaikan bahwa Yesus Kristus naik ke kayu salib supaya di salam Dia, berkat Abraham sampai kepada kita, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. Setiap kesembuhan terjadi karena pengorbanan Tuhan Yesus. Biarlah kita yang telah menerima kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus menjaga kerukunan dan unity yang diikat oleh damai sejahtera yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma. “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limaph dalam pengharapan.’ (Roma 15:13)

 

Sumber GBI Rumah Persembahan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.