A SOUND HEART

0
476

Lukas 10: 41-42
[41] Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, [42] tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Kekita Tuhan Yesus mengunjungi rumah Marta, Maria dan Lazarus di Betania, Marta sibuk mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut Tuhan, sedangkan Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan-Nya. Marta mengeluh pada Tuhan Yesus agar Tuhan meminta Maria menolongnya. Tapi Tuhan berkata bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.

Saul tidak mendengarkan suara Tuhan dengan mengambil jarahan yang seharusnya ditumpas seluruhnya bersama semua orang Amalek. Dia berdalih dengan berkata bahwa jarahan yang diambil dipakai sebagai korban yang dipersembahkan kepada Tuhan. Namun Tuhan berpesan melalui Samuel bahwa adalah lebih baik mendengarkan dari pada korban sembelihan. 1 Sam. 25:22,  “Tetapi jawab Samuel: ” Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” Tuhan senang kita mengambil waktu untuk mendengarkan-Nya. Sebagai pendoa, kadang-kadang kita lebuh suka berbicara dan menyampaikan permohonan kepada Tuhan dari pada mendengarkan apa yang hendak dikatakan-Nya. Sorang murisd harus melatih pendengarannya. Tuhan mempertajam pendengaran kita seperti seorang murid. Yesaya 50:4,   ” Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Amanat Agung Tuhan Yesus meminta kita untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus. Seorang murid yang baik akan mendengarkan suara gurunya.

Amsal 14:30,   ” Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Terjemahan bahasa Ingris berkata, “A sound heart is life to the body, but envy is rottenness to the bones”, yang berarti “hati yang sehat adalah kehidupan bagi tubuh…” Jika hati kita sehat, kita bisa peka mendengar suara Tuhan. Suara hati kita bisa menangkap dan meresonansi dengan suara Tuhan. Kita perlu melatih suara hati kita agar dapat mencerminkan suara Tuhan. Kita juga perlu berlatih agar dapar mendengar suara hati lebih dari pada usara dunia.

Hati yang tenang dan sehat akan membuat daging kita hidup. Kehidupan mengalir dari hati kita. Kalau isi hati kita baik, maka simfoni kehidupan juga akan baik. Tapi kalau tidak baik, maka kehidupan juga tidak akan baik. Jika hati kita sedih, kehidupan akan speperti balada yang sedih. Tapi jika kita suka merenungkan firman Tuhan siang dan malam, maka kehidupan kita juga akan berlaraskan dengan Firman Tuhan dan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan yang baik.

Tuhan menulis Firman-Nya dalam loh hati. Roma 2:15,   “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” Tuhan menaruh Firman-Nya di dalam loh hati sehingga hukum Taurat disebut juga hukum hati nurani. Tuhan menempatkan Roh-Nya di dalam hati manusia sehingga suara hati kita akan mengejar kalau kita berbuat seusatu yang bertentangan dengan Firman dan kehendak Roh Kudus-Nya. Itu sebabnya kita perlu belajar mendengar suara hati. Kalau tidak mau belajar, maka secara perlahan suara hati ini akan mengecil dan tidak terdengar lagi. Kebiasaan datang karena sesuatu  yang dikerjakan berulang-ulang. Tuhan memberikan kita ‘discerning spirit’ (roh yang dapat membedakan) untuk membedakan apa yang baik dan tidak baik. Namun, kemampuan untuk mebedakan ini tergantung pada apa yang ditaruh dalam hati. Jika kita menaruh apa yang baik, maka kita akan mendapatkan yang baik juga. Jika seseorang ikut melakukan apa yang salah, maka orang tersebut akan kehilangan ‘discerning spirit’, yaitu kemapuan untuk mendeteksi apa yang baik dan apa yang jahat.

Titus 1:15 berkata,  “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati merka najis.” Mulai dari tanggal 01 Maret- 09 April 2020 kita masuk ke dalam puasa raya. Dampak dari virus corona tidak baik, khususnya pada ekonomi dunia, yang diperkirakan pemulihannya baru bisa terjadi di bulan September. Topik doa yang dinaikkan adalah:

  • Pancasila dan NKRI tetap jaya
  • Dilindungi dari virus corona
  • Diluputkan dari ancaman krisis  ekomomi global
  • Lawatan Roh Kudus terjadi dengan dahsyat
  • Generasi muda mengalami revival
  • Amanat Agung Yesus dituntaskan

Marilah kita sehati berdoa puasa, merendahkan diri, meminta Tuhan untuk memeriksa apakah ada yang tidak baik dan ynag tidak menyenangkan-Nya di dalam hati kuta. Marilah kita meminta Tuhan untuk menyucikan dan menguduskan kita. Biarlah disaat dunia lagi digoncang oleh COVID- 19 (virus corona) dan membersihkan diri untuk kesehatan tubuh, marilah kita bukan saja membersihkan diri secara fisik, tapi juga mengambil waktu ini untuk me-reset diri ke titik nol dimana kita mulai mengecek kerohanian dan kebersihan hati kita. Marilah kita memulai dengan hati yang bersih dan dipulihkan maka hati yang sehat akan membawa kesehatan tubuh juga.

Kita perlu mengisi hati kita dengan Firman Tuhan dan meminta Roh Kudus memenuhi kita karena Firman Allah hidup dan kuat serta sanggup membedakan pertimbangan pikiran hati kita. Ibrani 4: 12,  “sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajan dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan fikiran hati kita.” Jika kita mengisi hati kita dengan Firman Tuhan, maka kita akan bisa melatih hati untuk bisa membedakan pertimbangan pikiran hati. Survei menunjukan bahwa 80% dari apa yang dikuatirkan tidak pernah terjadi; 15% dari yang terjadi 79% bisa diselesaikan dan hanya 21% yang tidak bisa diselesaikan. JIka 21% dari 15% yang terjadi, berarti hanya sekitar 3% dari semua yang dikuatirkan diprediksi tidak bisa diselesaikan. Apakah kita mau dipengaruhi oleh yang 3% ini atau oleh Firman Tuhan?

Ketika sedang menyelediki Firman Tuhan, apa yang terjadi? Kisah Para Rasul 17:11 mencatat,  “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerendahan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” Orang-orang yang senang dengar Firman Tuhan akan berubah menjadi priadi yang lebih baik. Gaya hidup dan buah akan kelihatan jika hidup kita baik.

Selain hati yang sehat  ” a sound heart”, kita perlu memiliki pikiran yang sehat “a sound mind”. mazmur 104:34 berkata,   “Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena Tuhan.”  Renungan kita seperti kata-kata yang bisa didengar. Kita perlu memiliki pikiran yang sehat supaya renungan kita baik dan manis didengar oleh Tuhan. Kejatuhan Lucifer terjadi dengan cara demikian. Dia sombong dan berkata dalam hatinya bahwa ingin menyamai Allah, seperti yang tertulis di Yesaya 14: 13-14,   “Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit , aku hendak mendirikan tahtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!”

Roh Kudus memberikan kepada kita kasih, kekuatan dan ketertiban. 2 Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Kata “ketertiban” dalam terjemahan NKJV (New King James Version) ditulis “a sound mind” (pikiran sehat) sedangkan dalam terjemahan NIV (New International Version) ditulis “self-discipline” (disiplin diri) dan dalam terjemahan ESV (English Standard Version) ditulis “self- control” (penguasan diri). Buah ke-9 dari manifestasi buah Roh Kudus adalah penguasaan diri. Jika kita memiliki pikiran yang sehat (a sound mind), maka kita sanggup menguasai diri dan hidup disiplin.

Amsal 23:7a berkata,  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” Terjemahan NKJV menulis, “For as he thinks in his heart, so is he”, yang berarti “apa yang dipikirkan seseorang dalam hatinya, demikianlah ia”.  Dengan kata lain, ada kuasa dalam pikiran kita. Itu sebabnya kita patut berpikir tentang semua yang baik seperti tertulis di Filipi 4:8,  “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulai, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Setelah kejatuhannya, Raja Daud meminrta Tuhan untuk menyelidiki hatinya dan pikirannya. Mazmur 139:23-24,   “Selidiki aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Daud membuka seluruh pikiran dan hatinya. Dia ingin suara hatinya menyenangkan Tuhan.

Pikiran dan hati kita akan lebih tajam kalau kita lebih sering masuk ke dalam menara doa. Maria mangambil bangian yang terbaik, yaitu duduk diam di kaki Tuhan Yesus mendengarkan-Nya. Goncangan yang mendunia membuat pergerakan kita terbatas dan melambat. Tujuannya supaya kita lebih banyak duduk diam dan berdoa untuk mendengar suara Tuhan.

 

*Sumber  GBI Rumah Persembahan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.